( AMANK ADI) أمانك أدي

Senin, 11 Oktober 2010

Legenda Gunung Batu Hapu


LEGENDA GUNUNG BATU HAPU


Tidak beberapa jauh dari kota Rantau, ibukota Kabupaten Tapin, Propinsi Kalimantan Selatan, terdapat dua desa yang bernama Tambarangan dan Lawahan. Menurut cerita orang-orang tua, dahulu kala di perbatasan kedua desa itu hiduplah seorang janda miskin bersama putranya. Nama janda itu Nini Kudampai, sedangkan nama putrinya Angui.
Mereka tidak mempunyai keluarga dekat sehingga tidak ada yang membantu meringankan beban anak beranak itu. Walaupun demikian, Nini Kudampai tidak pernah mengeluh. Ia bekerja sekuat tenaga agar kehidup-annya dengan anaknya terpenuhi.
Saat itu, Angui masih kecil sehingga ia masih senang bermain, belum ada kesadaran untuk menolong ibunya bekerja. Angui tidak mempunyai teman sebaya sebagai teman bermain. Sebagai gantinya, ia ditemani tiga ekor hewan kesayangannya, yaitu ayam jantan putih, babi putih, dan seekor anjing yang juga putih bulunya. Kemana pun ia pergi, ketiga ekor hewan kesayangan itu selalu menyertainya. Mereka tampak sangat akrab.
Pada suatu hari, ketika Angui sedang bermain di halaman rumah, melintaslah seorang saudagar Keling. Saudagar itu amat tertarik kepada Angui setelah menatap Angui yang sedang asyik bermain. Ia berdiri tidak begitu jauh dari tempat Angui bermain sambil terus mengamatinya. Dari hasil pengamatan itu, ia mendapatkan sesuatu yang menonjol pada penampilan Angui. Air muka Angui selalu jernih dan cerah. Ubun-ubunnya kelihatan berlembah. Dahinya lebar dan lurus. Jari-jarinya panjang dan runcing ke ujung. Di ujung-ujung jari itu terdapat kuku laki yang bagus bentuknya. Satu hal yang memikat adalah adanya tahi lalat yang dimiliki Angui. Tahi lalat seperti itu dinamakan kumbang bernaung.
Saudagar Keling mendapat firasat bahwa tanda-tanda fisik yang dimiliki Angui menunjukkan nasib baik atau keberuntungannya. Barang siapa memelihara anak itu akan bernasib mujur.
“Aku harus mendapatkan anak itu,” katanya dalam hati.
Tanpa menyia-nyiakan waktu, saudagar itu segera menemui Nini Kudampai, sang ibu. Dengan keramahan dan kefasihan lidahnya berbicara selain janji-janji yang disampaikan, ia dapat menaklukkan hati Nini Kudampai. Nini Kudampai tidak keberatan jika Angui diasuh dan dipelihara saudagar itu. Angui pun amat tertarik untuk mengikuti saudagar itu pulang ke negerinya.
“Anak Ibu tidak akan hilang,” kata saudagar itu meyakinkan. “Percayalah Bu, suatu saat kelak ia pasti kembali menemui ibunya, bukan sebagai Angui yang sekarang ini, tetapi sebagai orang ternama.”
Walaupun Nini Kudampai telah merelakan kepergian anaknya, ia tidak dapat menyembunyikan rasa harunya ketika akan berpisah.  Kesedihan dan keharuan kian bertambah ketika Angui meminta agar ketiga hewan teman bermainnya selama ini dipelihara sebaik-baiknya oleh ibunya.
“Bu, tolong Ibu jaga  babi   putih, anjing putih, dan ayam putihku.  Jangan Ibu sia-siakan!” kata Angui sambil mencium tangan ibunya dengan linangan air mata.
Saudagar Keling pulang ke negerinya dan tiba dengan selamat bersama Angui.  Angui diasuh dan dipeliharanya, tak ubahnya meme-lihara anak kandung.  Angui hidup bermanja-manja karena kehendaknya selalu dikabulkan orang tua asuhnya.  Kemanjaan itu berakibat buruk kepadanya.  Ia lupa diri dan menjadi anak nakal, pemalas, serta pemboros.
Saudagar Keling sering tercenung seorang diri.
“Firasatku ternyata salah,” ka-tanya dalam hati, “rupanya keadaan lahir belum tentu mencerminkan sifat dan watak seseorang.”
Saudagar Keling merasa tidak mampu lagi menjadi orang tua asuh Angui.  Kehadiran Angui dalam keluarga itu hanya menyusahkannya saja.  Tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain mengusir Angui.  Saudagar Keling itu tidak mau memeliharanya lagi.
Angui amat menyesali kelakuan-nya selama ini.  Apa dayanya karena sesal kemudian tiada guna.  Ia hidup luntang-lantung tiada arah.  Kesempatan baik telah disia-siakannya.
Syukurlah, lambat laun Angui mampu mengatasi keputusasaannya. “Aku harus menjadi manusia yang berhasil,” katanya penuh tekad.
Ia menanggalkan sikap malasnya dan mau bekerja membanting tulang.  Ia tidak merasa malu melakukan pekerjaan apa pun, asal pekerjaan itu halal.
Beberapa tahun kemudian, berkat kerja keras dan kejujurannya dalam bekerja, ia menjadi seorang saudagar kaya.  Kekayaannya tidak kalah dibanding kekayaan saudagar Keling yang pernah menjadi orang tua asuhnya.  Ketenarannya melebihi saudagar Keling itu.
Akhirnya,  Kekayaan Angui melebihi kekayaan siapa pun di negeri Keling itu.  Namanya makin terkenal setelah ia berhasil menyunting putri raja Keling menjadi istrinya.  Sejak menjadi menantu raja,  Angui mendapat nama baru, yakni Bambang Padmaraga.
Meskipun sudah kaya, Angui alias Bambang Padmaraga sering terkenang kampung halamannya.  Ia amat rindu kepada ibunya, Nini Kudampai.  Ia juga teringat pada babi putih, anjing putih, dan ayam putih, ketiga teman bermain yang disayanginya.  Selain itu, ia ingin memperkenalkan istrinya kepada ibunya dan menunjukkan keberhasilan-nya di perantauan.  Ia ingin memba-hagiakan ibunya yang bertahun-tahun ditinggalkannya tanpa berita.
Pada suatu hari, Angui mempersiapkan sebuah kapal yang lengkap dengan anak buahnya.  Tidak lupa pula bekal untuk perjalanan jauh dan cendera mata.  Inang pengasuh bagi istrinya turut serta dalam pelayaran ke negerinya.  Ia dan istrinya menempati sebuah bilik khusus di dalam kapal  yang ditata begitu apik seperti dalam sebuah istana.
Berita kembalinya Angui dan istrinya, putri raja Keling, dengan naik kapal segera tersiar ke seluruh penjuru.  Nini Kudampai pun mendengar dengan penuh rasa syukur dan sukacita.  Apalagi kapal putranya itu konon merapat dan bersandar tidak berapa jauh dari kediamannya.
Nini Kudampai segera berangkat ke pelabuhan dengan menggiring ketiga hewan piaraan teman bermain Angui, yaitu babi putih, anjing putih, dan ayam putih.  Ia berharap agar Angui segera mengenalinya dengan melihat ketiga hewan itu.
Nini Kudampai pun berseru melihat Angui berdiri berdampingan dengan istrinya di atas kapal, “Anakku!”
Sebenarnya, Angui mengenali ibunya dan ketiga hewan piaraannya.  Akan tetapi, ia malu mengakuinya di hadapan istrinya karena penampilan ibunya sangat kumal.  Jauh berbeda dengan ia dan istrinya.  Ia memalingkan muka dan memberi perintah kepada anak buahnya, “Usir perempuan jembel itu!”
Hancur luluh hati Nini Kudampai diusir dan dipermalukan putra kandung yang dilahirkan dan dibesarkannya.  Angui mendurhakainya sebagai ibu kandung.  Ibu yang malang itu segera pulang ke rumah.  Tiba di rumah, ia memohon kepada Yang Mahakuasa agar Angui menerima kutukan.
Belum pecah riak di bibir, begitu selesai Nini Kudampai menyampaikan permohonan kepada Tuhan, topan pun mengganas.  Petir dan halilintar menggelegar membelah bumi.  Kilat sabung-menyabung dan langit mendadak gelap gulita.  Hujan deras bagai dituang dari langit.  Gelombang menggulung kapal bersama Angui dan istri serta anak buahnya.  Kapal dan segenap isinya itu terdampar di antara Tambarangan dan Lawahan.  Akhirnya, kapal dan isinya berubah menjadi batu.
Itulah     sekarang   yang    dikenal  sebagai  Gunung  Batu  Hapu,      yang      telah     dibenahi  pemerintah   menjadi   objek       pariwisata.     Setiap       saat,  terutama     hari    libur,     tempat     itu   banyak dikunjungi  orang

(H. Yustan Aziddin, Cerita  Rakyat dari Kalimantan Selatan : 1993)


Kamis, 07 Oktober 2010

Pantun Bubuhan Orang Barabai



Seruling nipis angkat ka pati
Ulah sarungnya babalang baldu
Kurehing manis mu maikat hati
Ilah dikalungi digalangi rindu


Datu Bagalung

Tapih batik kain baldu
mandi disumur kada bacukin
mun ngalih digalang rindu
bapadah nu umanya bawakan cincin.


samprong

Utuh kapanatan tagureng janak
Digawel malam tarus tailanan
Mun bapadah kanu umannyak
Kalukuah kana tinjak kuantan balanga tarabangan

tempirai

Tulak bapadah ka Utuh Lanji
Handak bagarit injam sanapang
Bapadah ka umanya wani lagi
Bapadah ka bini..!!!tu..pang


W

Di huma banyunya dalam
Banyak iwak bamacam rupa
jar umanya no problam
Ampunya awak badimapa!


He he he

Nyamannya mamakan karak
satumat kurihing satumat tatawa
Niat hati handak baparak
takutan disariki kali kadua...


tempirai

Pur Si napur
Kaladi baguyangan
Ako bapupur
Urang karindangan

Tajak

Por sina por
Hampalam barira.
Bahimat artie bapupor
Tampong ilah japun opera!



He he he

Kandangan jambatan papan
Martapura jambatan wasi
Kaganangan ka RT di wayah makan
Banyu liur gugur ka nasi.....



NYIUR GUMPAK GAGALUNDUNG
GAGALUNDUNG DI BAWAH TANAH
BAIK RUPA DAHAM BALINDUNG
BAUNGKAI KA TANGAH-TANGAH

Siti

NYIUR GUMPAK GAGALUNDUNG
GAGALUNDUNG SAMPAI KA KAKI
BAIK RUPA DAHAM BALINDUNG
SUPAN KULAAN RAMAI LALAKI

w

GAGALUNDUNG DI BAWAH TANAH

DI PARANGAN JANGAN MALALAR
BAUNGKAI KA TANGAH-TANGAH
BAPINANDUAN KILAR-MANGILAR

DH

TOK ANJANG TOK AKI
BAUMBAIAN MANYUBARANG TITI
MUN SUPAN KA URANG LALAKI
NGITO NGARANNYA DIYANG SEJATI

zul

NYIUR GUMPAK NYIUR PANDAN
NYIUR ANOM NYIOR GADING
LAWASNYA KADA BAPANDIRAN
ASA DANDAMAN AWAN ADING

samprong

BULIK MANYAPONG MANYUBARANG TITI
HAWASI SUNGAINYA ADA BUHAYA
UMAI LAWASNYA ANDIKA KADAK BAPANDIRAN WAN SITI
HADANGE INYAK KAINAK DI PUTRAJAYA

W

TITI LAWAS DI ULAH TANDU
KAYU BARUTI DIPAKU LAPAN
DI TEWAS IMBAHTU DI RINDU
AGAR SITI BA'AMPIH SUPAN

He he he

BATANAM SI KACANG LANDIR
DAHAM BUAHNYA SAMPAI MANUHA
APA GUNA LANTIH BAPANDIR
SALAWASAN BASUNGKUP BAPATAK MUHA...

W

HIPUP GANGAN DIINTANG PIRING
BAWAH PIRANG ADA KAMUNA
HIDUP JANGAN KAYA TANGGILING
WAYAH DITIRING BAPATAK MUHA

samprong

TUMATAN PAHANG KA KUALA RUNGKUP
SINGGAH SATUMAT DI KOTA MALAKA
KANAAK SUPAN KA KULAAN MATAN BASUNGKUP
MUN SUPAN DIMUHA BAKICING HA MATA..





Kalayangan batali banang
Pagat talinya gugur ka bumi
Siang malam taganang-ganang
Urang diganang kada paduli

Anonymous
202.188.228.74

Siang malam taganang-ganang
Urang diganang kada paduli
angah ijul, siti bukannya saurang
banyak haja diang, pangganti diri

zul

Siti Nurhalija Siti Muslihat
Baumbaian manjarang katupat
Tuhuk dah ako ni mangayat
Tagal kada dapat-dapat

Tungko Julak

Baumbaian manjarang katupat
Baras katupat kada ditampi
Tuhuknya mangayat kada dapat-dapat
" UMPAMA MIMPI DALAM MIMPI "

DH

Tarasa sunyi di dalam hati
Tulak manjarat burung kenari
Cuba tatapkan iman di hati
Ganang sayang isteri sendiri

Utoh Lanji

Burung karuang tarabang melayang
Tarabangnya lanjar bahari-hari
Bini saurang sayang disayang
Diang nang banjar di cari-cari

DH

Anjang bini anjang laki
Bini putih laki hirang
Udah dasar urang lalaki
Kada mayo isteri saurang

zul

Bulan Ogos bulan merdeka
Cuti sakulah berbulan madu
Mun kaito ujar andika
Jom sunyaan bibinian bamadu

DH

Tarasa sunyi di dalam hati
Tulak manjarat burung kenari
Cuba tatapkan iman di hati
Ganang sayang isteri sendiri

zul

Ka puhun nyiur maambil handayang
Batangnya pulang diulah titi
Isteri nang ada tatap disayang
Isteri hanyar tatap dicarie

DH

Buah nangka buah tiwadak
ditanam urang di Langkasuka
bamadu ako kada handak
makan madu teramat suka




Bapantunan
Tumatan Ayuhak Bapandiran On line
21 June 2004

Dandan Setia

Sirih kuning basampuk urat,
Lakasi tanam ditangah halaman,
Putih kuning batahi lalat,
Kurehingnya maulah hati dandaman.

DH

Ngimun teh di kadai mamak
Bulik ka rumah disasah panyangat
Lajunya bukah awak layang
Kulit hirang awak gin lamak
Tatap ku sayang tatap kuingat
Nginto tandanya hati dah sayang

Pantun hagan abang sayang.....

Siti

2, 3 kucing habang balari
Mana abang handak ku cari

.... hagan abang Banjar, dari Siti............

Inul cindul

nginum gin di kadai mamak
kadai kulaan bukan kadaada
balaki jua dgn mamak
abang banjar hagan di wada....

mamak jua nang nyaman......barelaan.

DH

Teh mamak jua nyaman jar
Nyaman jua masakan utoh
Hati handakkai abang Banjar
Taga abang Malayo manjadi judoh

Siti

Anak Banjar tulak balajar
Balajar manuai di parit dua
Biji padi dituai
Handak banar balaki banjar
Lalaki Banjar dah bibini dua
Hi, Napa tu ai

foto jadul waktu SMA







http://www.facebook.com/photo.php?id=100000203424008&pid=558129#!/profile.php?id=100000203424008